Saturday, December 26, 2020

Hari Ibu dan Tantangan Orangtua dalam Pemenuhan Gizi Anak di Era Pandemi

Momen peringatan Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember tahun ini, bisa kita rasakan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan peringatan Hari Ibu berada di tengah situasi Covid-19. Meskipun demikian, makna dari peringatan Hari Ibu tidak boleh berkurang.

Kita tahu sosok seorang Ibu biasanya erat dengan tanggung jawab yang besar, kamu setuju nggak? Belum lagi dengan hal yang berkaitan pemenuhan gizi keluarga, karena semua itu berkaitan dengan masa depan anak-anak kelak. Ibu adalah pusat keluarga, yang menjadi garda terdepan untuk menjaga kesehatan keluarga.




Dengan situasi sekarang ini, bukanlah perkara yang mudah untuk memenuhi asupan gizi  keluarga, selain harus beradapatasi, menerima dan membangun kebiasaan baru di lingkungan keluarga, peran ibu semakin bertambah ketika harus berperan sebagai guru yang mengajarkan anak selama proses belajar mengajar secara daring.

Seorang Ibu menjadi kunci pertahanan kesehatan keluarga, yang harus memastikan gizi anak-anak dan keluarga terpenuhi agar imunitas tetap terjaga dan megawal keluarga dari potensi penyebaran virus covid-19. Ternyata hasil dari penelitian juga mengatakan kalau perempuanlah yang lebih disiplin dan menjalankan protokol kesehatan dengan menerapkan 3M secara baik.




Mengingat pentingnya peran seorang Ibu dalam menjaga kesehatan dan pemenuhan gizi keluarga, Yayasan Abhiparya Insan Cendikia mengadakan Webinar "Membangun Kesadaran Gizi Keluarga Mulai dari Usia Dini" pada hari senin, tanggal 24 Desember 2020.

Tantangan Orangtua dalam Pemenuhan Gizi Anak di Era Pandemi

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya memiliki pertumbuhan yang baik. oleh karena itu memaknai kembali Hari Ibu  beberapa hari lalu dengan memperhatikan dan mendukung pentingnya peran ibu, sebagai sosok yang memiliki kontribusi besar bagi pemenuhan gizi anak terlebih di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Masalah pemenuhan gizi ini juga menjadi perhatian besar Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), menyadari hal itu dalam webinar yang mengangkat tema membangun kesadaran gizi keluarga pada beberapa waktu yang lalu, menghadirkan beberapa narasumber yang ahli di bidangnya yaitu :
  • Arif Hidayat SE, MM, Ketua Harian YAICI
  • Prof. Dr. Ir. Netti Herawati M.Si, Ketua Umum PP HIMPAUDI
  • dr. Moretta Damayanti, SpA(K). M. Kes, Anggota IDAI 
Pada kesempatan webinar kali ini, Maman Suherman atau yang biasa dipanggil dengan Kang Maman hadir sebagai Moderator. Senang dech, kalau Kang Maman hadir sebagai moderator, acaranya tuch jadi hidup banged, nggak monoton githu.

Saya pribadi meyakini kalau anak usia dini, yakni dengan rentang usia 0-6 tahun sedang berada pada fase usia emas atau golden age. Pada fase ini merupakan fase yang menentukan seperti apa kelak jika dewasa nanti, baik dari segi fisik, emosional dan kecerdasannya.  Apalagi di era pandemi yang masih mengancam sampai penghujung tahun ini, mengakibatkan seluruh lapisan masyarakat terkena dampaknya, khususnya pada anak-anak yang sangat rentang terhadap penyakit.

Maka, solusi untuk permasalahan ini yaitu membentengi anak-anak calon generasi emas 2045 ini dengan memberikan asupan gizi yang cukup, supaya dapat meningkatkan imunitas mereka. Banyak cara untuk meningkatkan imunitas anak, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi susu. As we know, susu memiliki banyak nutrisi yang bermanfaat untuk tumbuh kembang anak-anak.




Karena kita tahu dalam susu mengandung, kalsium, protein, lemak, serta vitamin B1 dan C. Kandungan dalam susu juga memilki manfaat untuk menjaga agar tubuh kita tetap sehat dan fit.




Arif Hidayat, selaku ketua YAICI mengatakan 1 dari 7 anak di indonesia ternyata masih mengkonsumsi kental manis, padahal kental manis merupakan bukan bagian dari Asupan Gizi seimbang bagi Balita, karena kandungan gula yang tinggi. Jadi penyebaran informasi mengenai kental manis ini bukan susu harus ditingkatkan lagi, agar semakin banyak masyarakat yang mendapatkan informasi dengan tepat.

Sekali lagi peran dari seorang ibu sangat dibutuhkan, dalam pola pengasuhan anak-anak orangtua memang dituntut untuk memiliki pengetahuan lebih dan mau terus belajar serta mencari informasi yang tepat agar mereka bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anak mereka.

Ingat! Kental Manis Bukan Susu

Miris memang melihat fakta, bahwa masih banyak orangtua yang memberikan kental manis kepada anak-anak mereka sebagai susu setiap hari. Alasanya karena harganya yang murah dan mudah di dapat. Tak bisa kita pungkiri permasalahan ekonomi memang masih menjadi  penyebab utama masalah kesehatan.

Lagi-lagi karena permasalahan ekonomi masih banyak para orangtua yang memberikan kental manis sebagai susu kepada anak-anak mereka

Selain itu, dalam sambutannya Bapak Ir. Harris Iskandar, Ph.D Widyaprada Ahli Utama mengatakan kita jarang sekali bahkan hampir luput untuk menghubungkan PAUD dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Padahal jika dibandingkan dengan negara Cina dan negara Asia lainnya, mereka selalu menghubungkan, mengingat pendidikan dimulai sejak dini.

Jadi sejak usia dini, asupan gizi pada anak-anak memang harus diperhatikan bahkan semenjak berada dalam kandungan, jangan sampai mereka kekurangan atau kelebihan gula, garam, dan lemak. Jika anak-anak kekurangan gizi maka pertahanan tubuh akan lemah (imun).

Kamu tau nggak, kalau 1 dari 3 anak di Indonesia berpotensi menjadi stunting, tentu hal ini erat kaitannya dengan permasalahan gizi, ini yang masih kita abaikan.

Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab? Dalam hal ini tidak bisa saling menyalahkan, tapi seluruh lapisan masyarakat Indonesia harus turun tangan  dalam memberikan edukasi kepada masyarakat dengan tepat dan secara langsung.

Ingat! Tidak semua susu sama, terlihat  seperti padahal kental manis bukan susu, proteinnya sedikit dan gulanya tinggi. Jadi sebaiknya jangan dikonsumsi sebagai minuman susu apalagi diberikan kepada anak-anak, Dari hasil penelitian Sahabat YAICI yang dilakukan di 5 Provinsi, mengenai masyarakat yang mengkonsumsi kental manis, ternyata ada orangtua yang memberikan kental manis sampai 5 gelas per hari kepada anak-anaknya. Duch, dengar fakta ini rasanya tuch menyahat hati banged ya.

Mengapa masih banyak persepsi masyarakat yang menganggap bahwa kental manis itu adalah susu, hal ini karena salah satu penyebabnya adalah dari iklan yang menampilkan kental manis diminum sebagai minuman susu, dan menampilkan anak-anak pula. Selain itu juga sudah turun-menurun memberikan kental manis sebagai susu.

Prof. Dr. Ir. Netty juga mengatakan peran pendidikan PAUD sangat berperan penting untuk meningkatkan literasi Gizi anak-anak, oleh karena itu Bunda Netty menghimbau agar guru tidak boleh mendidik apa yang tidak dilakukannya dan guru adalah calon pasangan paling ideal yang akan mendidi anak-anaknya.

Pesan yang aku ingat dari Ibu Netty itu ketika beliau mengatakan
Manusia itu harus dikenalkan dengan tubuhnya, kalau ia sudah kenal dengan tubuhnya maka ia akan kenal dengan tuhannya.

Untuk menjaga permasalahan gizi, kita hanya boleh mengkonsumsi gula sehari itu hanya 4 sendok makan gula, memang betul jika kita tidak langsung makan gula dalam 4 sendok makan, tapi dalam kental manis , dalam permen,dalam coklat, dalam cake, semua itu makanan yang mengandung gula. 


Asupan Gizi Untuk Anak usia PAUD

Pemaparan selanjutnya oleh Ibu Moretta yang mengatakan, bahwa kebiasaan konsumsi makanan manis pada anak-anak, bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Anak menjadi kenyang dan efek lanjutannya tumbuh kembang mereka menjadi terhambat. Terutama pada anak-anak yang mengkonsumsi kental manis. Apabila orangtua  merasa dengan susu saja sudah cukup, maka akan berisiko kurang gizi. Lebih bahaya lagi jika anak-anak mengkonsumsi kental manis dan juga suka ngemil maka bahayanya akan menyebabkan obesitas. 

Jika ingin memberikan susu kepada anak-anak maka berikanlah susu yang standar



Selain itu faktor lingkungan juga ikut mendukung, maka sebaiknya kita harus menciptakan lingkungan yang menyenangkan, dan jangan membiasakan hadiah makanan sebagai reward kepada anak-anak. Mengenai permasalahan gizi sebenarnya sudah masuk di dalam kurikulum PAUD, tapi sekali lagi tidak mudah menggandeng para orangtua untuk ikut serta menjalankan program makan sehat yang ada di PAUD.

Semoga dengan adanya penelitian ini diharapkan menjadi pemicu, agar semakin banyak masyarakat yang melek pengetahuan dan informasi yang tepat terkait dengan asupan gizi untuk balita. Sehingga pada tahun 2045 nanti anak-anak akan tumbuh menjadi generasi emas dan berakhlak mulia.





No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfaat.
Tunggu kunjungan balik saya di Blog kalian.

Salam hangat