Wednesday, November 25, 2020

Bahaya Kental Manis Bila Dikonsumsi Balita

Bahaya kental manis bila dikonsumsi kepada balita ternyata masih banyak yang belum dipahami oleh para orangtua di Indonesia, bagaimana faktanya?



Kita tahu selama ini kental manis menjadi salah satu jenis minuman yang cukup banyak digemari oleh masyarakat. Padahal mengonsumsi sesuatu secara berlebihan tidaklah bagus, begitu juga dengan mengkonsumsi susu kental manis. Lebih menyedihkan lagi banyak orangtua yang menyadari hal ini, namun mereka masih memberikan kental manis kepada anak balitanya.

Padahal produk kental manis sama sekali tidak setara dengan  susu pengganti ASI dan tidak boleh diberikan kepada balita. Hal ini dikarenakan kandungan-kandungan dalam kental manis tidak sesuai untuk anak-anak dan kandungan gizinya juga sedikit.

Berdasarkan hasil penelitian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU melanjutkan penelitian tentang Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis. Penelitian dilakukan di  DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Total responden adalah 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 – 59 bulan atau 5 tahun.

Dari hasil penelitian bisa kita tebak, ternyata masih ditemukan 28,96% yang mengatakan kalau Kental Manis adalah susu pertumbuhan. Sebanyak 16,97% ibu-ibu masih memberikan kental manis untuk anak setiap hari.

Fakta Tentang Kental Manis

Apakah kental manis merupakan produk susu yang sama dengan susu balita yang lainnya?

Nyatanya kental manis bukanlah susu melainkan minuman yang didalamnya terdapat campuran gula dan susu. Data dari Kemenkes RI mengatakan kandungan kental manis sekitar 20 persen susu dan 40-45% adalah gula.

Dilihat dari kandungan yang ada maka kental manis lebih cocok jika dijadikan pelengkap atau pemanis makanan yang beraroma susu. Bisa dibayangkan betapa bahayanya jika kentalmanis dikonsumsi sebagai susu setiap hari oleh anak-anak.



Hasil penelitian ditemukan juga sumber kesalahan persepsi para orangtua yang masih memberikan kental manis sebagai susu, sebanyak 48% bersumber dari media, baik dari Tv, majalah, koran, dan sosial media. Sedangkan 16,5% mengatakan mendapatkan informasi tersebut dari tenaga kesehatan.

Dalam hal ini Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Chairunnuisa mengatakan bahwa media memiliki peran penting dalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang kental manis adalah susu.

Oleh karena itu Chairunnisa menjelaskan bahwa para kadernya sendiri juga masih diberikan literasi mengenai kental manis bukan susu. Terus memberikan informasi dan menekankan kepada para kadernya bahwa kental manis hanya sebagai topping atau penambah rasa pada makanan dan minuman.


Bahaya Kental Manis Bila Dikonsumsi Balita

Mengingat kental manis ini bukan merupakan produk yang memiliki nutrisi dan gizi, serta memiliki kandungan kadar gula yang sangat tinggi. Maka tidak heran kental manis ini menimbulkan risiko bagi yang mengkonsumsinya, terutama bagi balita. 

Karena hasil temuan menarik lainnya adalah kategori usia yang paling banyak mengkonsumsi kental manis adalah usia 3-4 tahun sebanyak 26,1%,lalu menyusul usia anak 2-3 tahun sebanyak 23,9%. Semantara itu untuk anak kategori usia 1-2 tahun yang mengkonsumsi kental manis sebanyak 9,5%, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8% dan anak dengan usia 5 tahun sebanyak 6,9%.

Dari hasil tersebut, usia anak 3-4 tahun yang paling banyak mengkonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari. Meskipun sosialisai terus dijalankan bukan berarti ini menjadi hal yang mudah diterima oleh masyarakat. Tentu saja ini sulit diterima oleh masyarakat, apalagi informasi ini sudah mereka dapatkan sejak kecil, bahkan hingga mereka memiliki anak kebiasaan memberikan kental manis setiap hari sebagai minuman susu terus terjadi secara turun menurun. 

Padahal, minuman yang mereka anggap sehat ini terdapat bahaya apabila dikonsusmi oleh anak-anak mereka. Nyatanya jika dilhat dari kecukupan gizi dimana 13,4% anak yang mengkonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, lalu 26,7% mengalami gizi kurang, sebanyak 35,2% mengalami gizi lebih.

Kadar gula berlebih yang ada pada kental manis dapat mengakibatkan diabetes hingga obesitas pada anak-anak. Bahkan, jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat berisiko menurunkan sensitivitas insulin dalam tubuh.

Selain itu jika kental manis diberikan kepada anak-anak dapat merusak perkembangan gigi pada anak-anak balita yang masih berada dalam tahap pertumbuhan.

Perlunya Kerjasama Lintas Sektoral Untuk Sosialisasi Kental Manis Bukanlah Susu

Untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bukanlah hal yang mudah, perlu adanya lintas sektoral dari seluruh masyarakat. Dalam hal ini Ibu Erna Yulia Soefihara, selaku Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan bahwa ia dan seluruh kadernya yang berada di seluruh Indonesia memiliki cara tersendiri untuk mensosialisasikan kalau kental manis bukanlah susu, yaitu dengan cara mengadakan lomba membuat makanan versi masyarakat masing-masing sesuai dengan potensi lokal yang ada dengan mencampur kental manis.

Melalui kegiatan ini, ternyata masyarakat menjadi sedikit lebih mudah paham dan mulai melakukan perubahan. Peran dari pemerintah dalam hal ini juga sangat diperlukan, oleh karena itu sejak tahun 2018 melalui Perka BPOM No. 31 sudah ada kebijakan untuk menghilanhkan kata-kata susu, dari susu kental manis menjadi kental manis. 

Lalu promosi susu kental manis bukan hanya dilakukan oleh seller saja, tetapi juga oleh produsen. Maka daru itu perlu adanya aturan dari BPOM terkait hal tersebut, dan UU untuk produsennya.



Yuk,kita ikut berperan dalam menyebarluaskan informasi bahwa kental manis bukanlah susu kepada masyarakat luas dan dimulai bijak dari diri sendiri, keluarga dan kerabat untuk tidak memberikan kental manis sebagai minuman utama dalam pemenuhan gizi anak-anak kita.

Stay Health untuk kita semua!


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfaat.
Tunggu kunjungan balik saya di Blog kalian.

Salam hangat