Thursday, February 13, 2020

Hari Kanker Sedunia 2020 : Setiap Orang Bisa Mencegah Terkena Kanker

Kamu tau tanggal 4 Februari itu ada apa? Setiap tahun, Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari. Pada tahun 2020 ini mengusung tema "I Am and I Will", yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama bagi keluarga pasien kanker untuk meningkatkan kesadaran dalam mengurangi angka penderita kanker dengan melakukakan deteksi dini serta skrining kanker, mendampingi pasien kanker selama masa perawatan hingga tahap paliatif, dan yang nggak kalah penting memberikan pengobatan yang tepat kepada pasien kanker.


Me and Friends hadir di Acara Diskusi Nasional Hari Kanker Sedunia 2020.
Kenapa peran keluarga itu penting? Karena dengan adanya dukungan dan pendampingan dari keluarga  bisa meningkatkan kualitas hidup pasien.

Oleh karena itu, pada tanggal 6 Februari 2020 bertempat di RS. Kanker Dharmais Jakarta dilaksanakan Diskusi Nasional, mengangkat tema "Penanggulangan Kanker Secara Komprehensif dan Peran Keluarga dalam Program Promotif, Preventif, Deteksi Dini, Terapi sampai dengan Paliatif".

Lantas, apa saja yang dibahas dalam diskusi ini? Begitu banyak pakar dan pemerhatu kanker yang hadir di acara diskusi ini, semakin banyak sisi yang bisa kita dapatkan baik dari sisi pemerintah, Dokter, dan juga sisi dari pasien kanker.

Diskusi Nasional Penanggulangan Kanker secara Menyeluruh

Berbicara mengenai penyakit kanker, mengingatkan saya kepada seorang teman yang meninggal dunia karena kanker rahim. Saat itu usianya masih terbilang muda, belum menginjak 30 tahun. 

Tak sempat bertanya bagaimana penyakit ini bisa terkena pada dirinya, karena Tuhan lebih sayang kepadanya. Seingat saya, tak pernah ia mengeluh sakit dan ternyata dalam tubuhnya terdapat sel kanker.


All Narasumber Dialog Nasional di RS. Kanker Dharmais Jakarta

Seperti yang dikatakan oleh salah satu Narasumber Diskusi Nasional Ibu Aryanthi Baramuli Putri, SH, MH, Ketua Umum Cancer Information and Support Center (CISC), bahwa edukasi dan keterlambatan diagnosa pasien Kanker di Indonesia. Sehingga ada dua pertiga atau sekitar 65,4% pasien yang datang ke rumah sakit dimana mereka sudah terkena kanker stadium 3 dan 4.


Terkena penyakit kanker bukan hanya merenggut kebahagian pasien saja, melainkan kebahagian keluarga pasien juga. Kenapa? Karena biaya untuk mengobati penyakit ini tidaklah sedikit, begitu pula waktu untuk pengobatan dan perawatan cukuplah lama. 

Kamu tahu nggak? Untuk pengobatan penyakit kanker ini ternyata menghabiskan 4% dari total pembiayaan di JKN dan terus memerlukan tambahan pembiayaan. 

Jika dilihat dari proporsinya, 12% penyakit kanker penyebab kematian di Indonesia, sedangkan 70% disebabkan karena penyakit katastropik. Berarti penyakit katastropik menjadi penyebab kematian yang terbesar dan setidaknya menghabiskan dana pengobatan sekitar 25% lebih.

Untuk itu peran semua pihak untuk mencegah meningkatnya penyakit kanker secara komprehensif sangat diperlukan. Diantaranya peran dari Organisasi pasien yang ternyata jumlahnya di Indonesia cukup banyak lho! dan mereka menjadi mitra pemerintah yang diharapkan dapat mendengar suara pasien, apa saja peran mereka? Peran mereka cukup besar bagi pasien kanker diantaranya : 
  • Promosi dan Edukasi Publik, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kanker terutama untuk pencegahan/preventif dan deteksi dini
  • Pelatihan, misalnya pelatihan untuk patient navigator
  • Peer Support, pertemuan komunitas off line dan on line sesuai dengan jenis kankernya
Selain itu, organisasi pasien merekomendasikan beberapa hal :
  • Mengimplementasikan masukan dari organisa pasien dalam kebijakan penanggulangan penyakit kanker
  • Menghindari kebijakan yang berubah-ubah dan tidak membawa perubahan untuk perbaikan kualitas hidup pasien. Seperti halnya sistem rujukan berjenjang, rujukan balik per 3 bulan, dan penghapusan obat terapi target.
  • Kerjasama setiap pihak baik secara berkesinambungan dan berkelanjutan.
Harapan dari Organisasi Pasien, kanker bisa menjadi program prioritas nasional seperti, stunting, malaria, TBC dan lainnya.

Biaya Pengobatan Penyakit Kanker itu nggak Murah Lho!

Tau dunk kalau biaya pengobatan penyakit kanker ini cukup tinggi dan setiap tahun jumlahnya semakin meningkat. Belum lagi untuk biaya hidup sehari-hari keluarga pasien, ini juga tidak bisa diabaikan.


Biaya Pengobatan Kanker Nggak Murah Lho!
Apalagi kedepannya akan ada kebijakan, beberapa pembiayaan pengobatan yang nggak akan di cover oleh pemerintah. So, dalam hal ini hadir Bapak Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, MMedSc, PhD, selaku Ketua Komite Nasional (KOMNAS) Formas (Formularium Nasional), Kemkes RI. Beliau mengatakan bahwa perkembangan obat kanker selama 10 tahun terakhir terdapat sekitar 848 obat dan vaksin kanker.

Artinya setiap tahun ada lebih dari 75 obat dan vaksin untuk kanker. Dengan terus dikembangkannya obat kanker, ternyata hal tersebut juga membantu survival rate. Secara persentase survavile rate pengobatan untuk semua penyakit kanker meningkat dari 50.3% menjadi 67%.


Pengembangan Obat Kanker
Jika dilihat faktanya selama satu dekade terakhir ini pengembangan obat kanker jauh lebih cepat dibandingkan obat antibiotik. Dalam 15 tahun terakhir ini hanya ada sekitar 40 antibiotika baru, it means hanya ada 2-3 antibiotika baru setiap tahunnya.

Yuk, kita lihat pengembangan obat kanker! Dalam perkembangan obat kanker, industri farmasi ternyata cukup concern qo, dimana 35% dari semua obat di dunia didedukasikan untuk kanker. Buktinya dalam 5 tahun terakhir saja ada 57 obat kanker disetujui untuk 89 indikasi.

Meskipun perkembangan obat kanker mengalami peningkatan, tapi dalam pendistribusiannya belum merata. Beberapa penderita kanker yang berada di  daerah-daerah pelosok belum dapat menerimanya. Apa siy penyebabnya? Berikut ini beberapa kondisi yang menyebabkan obat-obat kanker belum merata bagi penggunanya :
  • Tidak eligable untuk JKN/Sistem Pembiayaan
  • Permasalahan Geograpis daerah Indonesia
  • Alat diagnosis terbatas, distribusi juga terbatas
  • Masalah edukasi kepada masyarakat
  • SDM yang terbatas
  • Infrastruktur terbatas
Sehingga dalam hal ini pemerintah dan juga Yayasan Kanker Indonesia menyambut baik diskusi Nasional ini. Supaya semakin banyak masyarakat mendapatkan informasi mengenai penyakit kanker. Selain itu adanya program promatif diharapkan adanya upaya yang dilakukan sebelum timbul penyakit, adanya perubahan masyarakat untuk menjalankan pola hidup sehat.

Ingat ya guys! Bahwa mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Pemerintah juga telah memiliki rencana dalam pencegahan dan pengendalian Kanker lima tahunan (Repekalita) 2020-2024 :

1. Promosi Kesehatan dan Pencegahan Primer
2. Tatakelola, Kepemimpinan & Kemitraandalan Era Desentralisasi
3. Penyelenggaraan Pelayanan Kanker, dengan melakukan deteksi dini
4. Pengembangan kapasitas tenaga kesehatan
5. Perawatan Paliatif
6. Registri Kanker, penelitian dan translational knowledge


Repekalita Pengendalian Kanker 2020 2024
Untuk mengurangi penderita penyakit kanker ini, bukan hanya tugas dari kemenkes saja, tapi dukungan dan keterlibatan beberapa pihak sangat dibutuhkan. 

Selain itu sejak adanya kartu JKN-KIS oleh Pihak BPJS Kesehatan sangat membantu masyarakat dalam berobat. Pihak BPJS Kesehatan juga terus meningkatkan pelayanannya bagi seluruh peserta JKN-KIS.

Pemerintah sadar betul, untuk mengurangi jumlah penderita penyakit kanker bukan perkara yang mudah, banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu tantangannya adalah bagaimana mengembangkan pengobatan kanker yang inovatif dengan model pembiayaan yang ada sekarang ini? Obatnya ada tetapi harganya sangat mahal, sehingga para pasien kanker tidak bisa menggunakannya.

Untuk mengatasi hal tersebut, kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan menerapkan country price dengan harga terjangkau untuk negara yang memiliki keterbatasan dengan skema akses obat-obatan yang inovatif dan tercapai level kemampuan untuk membayar dengan cara koordinasi manfaat.

Peran Medical Officer Pfizer Emerging Market untuk Mengurangi Angka Pasien Kanker di Indonesia

Mendengar penyakit kanker begitu mengerikan, apalagi penyakit ini dapat terkena siapa saja, bukan hanya mereka orangtua saja, tapi generasi muda yang masih produktif bahkan anak-anak bisa terkena kanker.

Tentu saja langkah untuk menjalankan pola hidup sehat dan program Germas yang terus diserukan oleh pemerintah merupakan langkah yang tepat untuk dilakukan.

Jangan menunggu sakit terlebih dahulu baru kita melakukan pemeriksaan, tapi alangkah baiknya melakukan medical check up sejak dini.

Tantangan untuk pengobatan penyakita kanker sekarang ini semakin besar. Oleh karena itu Rochelle Chalken, Chief Medical Officer Pfizer Emerging Market pihaknya selalu melakukan inovasi untuk menghadirkan terapi pengobatan penyakit kanker di waktu dan kondisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan.

Inovasi ini sebagai bentuk komitmen Pfizer, untuk mengurangi beban pasien kanker dan memberikan angka harapan dan kualitas hidup pasien kanker yang lebih baik.

Untuk mewujudkan itu semua Rochelle mengatakan perlu adanya dukungan dan dapat bersinergi dengan semua pihak.

Salah satu inovasi yang dilakukan oleh Pfizer Emerging Market yaitu dengan mengembangkan inovatif untuk kanker payudara. Mengingat kanker payudara ini yang tertinggi di Indonesia. Hal ini diketahui dari data Globocan tahun 2018 yang menyebutkan kasus kanker payudara mencapai 58.256 atau 16.7% dari total kasus baru kanker yang ada di Indonesia.

Adanya inovatif dalam pengobatan kanker payudara ini memberikan harapan baru bagi pasien kanker payudara metastatis HR, HER2, dan obat terapi ini sudah tersedia di Indonesia.

Harapan dengan adanya diskusi nasional ini, masyarakat semakin mudah dan mendapatkan banyak informasi yang terpercaya seputar kanker. 

So, stay healthy ya guys! 


No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfaat.
Tunggu kunjungan balik saya di Blog kalian.

Salam hangat