Tuesday, November 26, 2019

Yakin, Sanitasi di Rumah Kamu Sudah Aman Bagi Kesehatan?

Kamu pernah nggak melihat kehidupan saudara-saudara kita yang tinggal di dekat kali? Bagaimana mereka memperoleh air bersih dan bagaimana dengan sanitasi mereka sehari-hari?



Terkadang kita yang melintas di sekitarnya saja, sudah tidak tahan dengan bau kurang sedap yang tercium, tapi nyatanya banyak masyarakat kita yang telah bertahun-tahun tinggal disana.

Pasti, ini bukan kemauan mereka juga tapi tingginya biaya hidup menjadi pilihan untuk bertahan hidup di tengah-tengah kota.

Mendengar langsung pengalaman dari saudara kita yang tinggal dekat dengan kali, bagaimana mereka menceritakan tentang hal yang dianggap remeh, padahal ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan kita yang lebih baik.

Pengalaman tersebut aku dapatkan ketika hadir di acara Kumpul Blogger dan Vlogger "Sanitasi Aman, Mulai Kapan? Tepatnya pada tanggal 19 November 2019, bertempat di Comic Cafe, Tebet Raya No. 53D, Jakarta Selatan.

Bersama dengan teman-teman BloggerCrony lainnya kami diajak untuk melihat sanitasi masyarakat yang tinggal di sekitar daerah Kelurahan Tebet Timur yang rumahnya  berada di dekat pinggir kali.


Ini pertama kalinya bagi aku pribadi berkunjung ke daerah tersebut. Salah satu warga yang tinggal disana bercerita kepada kami bahwa baru 3 bulan terakhir ini mereka baru menggunakan pipa saluran menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), lantas selama bertahun-tahun sebelumnya kemana limbah domestik mereka berakhir?

Kalian tau jawabannya, yup kotoran mereka berakhir di sepanjang kali tempat tinggal mereka. Jadi bagi masyarakat yang tinggal di daerah tersebut bukan sesuatu yang jijik jika di pagi hari melihat kotoran manusia melintas di air kali. 

Aku pribadi sedikit kaget, karna berpikir kalau yang mengalir langsung ke kali hanya limbah air saja, karena mikirnya mereka juga memiliki toilet dan septik tank untuk BAB. Tapi nyatanya kotoram yang mereka keluarkan tersebut langsung menuju ke kali.

Cerita Warga Daerah Tebet Timur

Mereka mengatakan kenapa baru 3 bulan terakhir ini menggunakan IPAL, ternyata kendalanya adalah mereka tidak memiliki dana untuk membuat toilet dan tangki septi tank, jadi sebagai jalan pintasnya mereka langsung membuang limbah domestik mereka ke kali.

Selain itu masih banyak masyarakat yang belum perduli dengan kesehatan dan kebersihan diri mereka, keluarga mereka dan lingkungan mereka. Apalagi mengenai sanitasi yang aman bagi kesehatan mereka. Hal ini dianggap sepela, padahal ini merupakan hal yang sangat penting untuk kebidupan masa depan kita semua.


Namun, apa yang membuat mereka akhirnya sadar dan mulai memiliki septi tank dirumah mereka. Hati nurani mereka mengatakan berawal ketika melihat petugas kebersihan membersihkan sampah yang ada di kali mereka sebagai makhluk hidup, tidak nyaman jika para petugas tersebut melihat dan membersihkan kotoran mereka.

Hingga akhirnya melalui kesadaran dan penyuluhan pemerintah setempat, warga yang tinggal dekat pinggir kali mulai membangun toilet yang dilengkapi dengan tangki septi tank secara gotong royong alias patungan.

Kendala biaya sedikit tertolong, dengan adanya bantuan APP Sinarmas dan kesadaran masyarakat akan sanitasi yang aman bagi kesehatan  tumbuh di diri mereka. Melalui bantuan ini masyarakat sekitar Tebet Timur bisa mengelola air limbah, dan mereka sadar bahwa sungai/kali si sekitar mereka sudah tercemar dan menimbulkan bau yang tidak sedap.

Faktanya, setelah memiliki sanitasi yang aman, warga merasakan adanya perbedaan dan merasa lebih nyaman. Pemandangan yang kurang enak dipagi hari pun sudah berangsur berkurang. Tapi memang belum semua warga di sekitar lingkungan Tebet Timur, khususnya di Rt.08 Rw.10 sudah memiliki IPAL untuk saluran limbah domestik mereka.

Kenapa kita langsung melakukan ke lapangan di daerah ini? Soalnya, ini merupakan lingkungan yang menjadi contoh kawasan yang mulai melakukan pengolahan limbah domestik.

Ini memang perlu waktu, tenaga, pikiran dan biaya agar masyarakat yang tinggal disana bisa membuat sanitasi yang aman bagi kesehatan mereka. Paling tidak saat ini mereka pada akhirnya mulai memasang instalasi agar ada biofilter dan limbah yang dihasilkan bisa dikelola.

Hari Toilet Sedunia

Kamu tau nggak, kalau ada Hari Toilet Sedunia? Mungkin banyak diantara kita yang masih belum mengetahui hal ini. Hari Toilet Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 November, tapi justru masalah sanitasi ini sering dianggap 'urusan belakang' sayangnya hal ini sangat penting karena melibatkan kualitas hidup masyarakat.


Dalam acara kumpul Blogger dan Vlogger Hari Toilet Sedunia 2019 dipandu oleh Mbak Lina Damayanti, Moderator advisor Bidang Advokasi dan Komunikasi USAID IUWASH PLUS, dan hadir pula bebberapa narasumber :
  • Ika Fransisca, Advisor Bidang Pemasaran dan Perubahan Perilaku UDAID IUWASH PLUS,
  • Dr. Subekti SE, MM, Direktur Utama PD PAL JAYA
  • Zaidah Umami, Bidang Kesehatan Lingkungan Puskesmas Kecamatan Tebet

Pada tahun 2018 akses sanitasi ke toilet atau jamban mencapai lebih dari 74,5%, termasuk 7% sanitasi aman. Sayangnya pencapaian ini tidak dibarengi dengan penurunan diare dan stunting. 

Karena kenyataannya kejadian diare di Indonesia mencapai 7% dan stunting diatas 30% dan pada tahun 2017, Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa 75% sungai yang ada di Indonesia sudah tercemar, dimana 60% polutam disumbangkan oleh air limbah domestik yang tidak diolah.

Berbicara hal ini, kalian tau nggak siy kemana berakhirnya kotoran domestik kita berakhir? Trus, apa semua rumah sudah memiliki toilet?

Kenyataannya, masih banyak toilet di Ibu kota yang tidak memiliki sanitasi yang aman. Ternyata daerah di Indonesia yang sudah memiliki sanitasi bagus dan tidak buang sembarangan itu adalah daerah Yogyakarta, kemudian disusul kota Jakarta yang berada di peringkat kedua.

Bagaimana dengan sanitasi daerah kalian guys??

Kalau dari pengalaman pribadi aku, pernah berkunjung ke beberapa daerah dan melihat langsung kondisi toilet disana, ya bisa dibilang miris melihat kondisinya, seperti yang aku lihat di sekitar daerah Tebet Timur kemaren.

Lantas, kapan Sanitasi Aman?

Pertanyaan ini mungkin selalu muncul di benak kita, karena di luar sana masih banyak masyarakat Indonesia yang BAB sembarangan.  Tentu kita nggak bisa berdiam diri dan nggak boleh pasif melihat kondisi seperti itu. Kita harus memiliki kesadaran dan memberikan edukasi bahwa kebersihan dan kesehatan harus tetap diperhatikan, terutama yang meyangkut dengan hal sanitasi.

Karena pengolaan yang berhubungan dengan air limbah ini sering diabaikan, padahal semua ini dapat berpengaruh kepada kualitas hidup masyarakat dan efeknya juga terhadap diare dan stunting.

Jika melihat fakta diatas, haruskah kita menungu semua sungai yang ada di sekitar kita tercemar? Lalu, sanitasi aman itu yang seperti apa siy?

Yakin, Sanitasi di Rumah Kamu Sudah Aman Bagi Kesehatan?

Sanitasi Aman itu merupakan sistem sanitasi yang memutus sumber pencemaran limbah domestik ke sumber air. Artinya, sanitasi aman mencakup penampungan air limbah domestik si tangki septi yang sesuai SNI.


Kamu tau nggak, kalau di Indonesia sendiri ternyata masih ada sekitar 25 juta penduduk yang masih BABS (Buang Air Besar Sembarangan). Ini bukan angka yang sedikit bukan, dan masalah Sanitasi Aman ini bukan saja persoalan kemiskinan, tapi Tahu, Mampu, dan Mau.


Permasalahan Sanitasi Aman ini adalah permasalahan yang hampir semua orang tidak mau tahu. Bagaimana berakhirnya limbah kotoran kita dibuang? Apakah sungai atau kali di sekitar kita cukup bersih dan terhindar dari limbah kita sendiri?

Padahal lingkungan yang baik adalah lingkungan yang tidak tercemari dengan kotoran manusia (limbah domestik) dan untuk mewujudkan lingkungan yang baik tersebut kita harus menjadi warga yang mematuhi peraturan dan tanyakan kepada diri sendiri apakah sanitasi di rumah kamu sudah aman? 

Mengapa rumah kita perlu toilet dan tangki septik yang aman? Alasannya adalah, 

  • Tinja adalah sumber penyakit, karena mengandung puluhan miliar mikroba, seperti bakteri E-coli dan salmonella, virus hepatitis, ribuan telur cacing, dan hal lainnya yang membahayakan kesehatan manusia, terutama anak-anak
  • Tangki Septi Memberikan solusi, agar tinja tidak mencemari sumber air dan lingkungan, serta menjadi sumber penyakit
  • Tangki Septi berfungsi sebagai tempat penampungan dan pengolahan tinja sementara.
Mengenai standar teknis tangki septik yang baik adalah :
1. Harus kedap air
2. Memiliki volume standar
3. Memiliki lubang kontrol
4. Memiliki ventilasi
5. Memiliki pipa masuk dan keluar
6. Harus dikuras/disedot, diangkut, dan dibuang dengan truk tinja secara reguler ke IPLT setiap 2-3 tahun sekali.


Kalau jamban sehat, maka sanitasi aman dan kualitas hidup kita juga akan lebih baik. Jangan sampai ya guys kita punya smartphone, motor, mobol kece tapi dalam rumah nggak punya toilet, urusan sanitasi tidak mendapatkan perhatian.

Dari sanitasi yang buruk inilah bisa mengakibatkan diare, jika anak-anak sudah terkena diare maka bisa timbul masalah selanjutnya permasalahan gizi buruk pada anak-anak hingga stunting.

Jangan sampai kita ini bukan MEMBIASAKAN yang benar, bukan MEMBENARKAN yang biasa. Gimana caranya membiasakan yang benar? Mulailah jadi blogger dan tetangga yang baik dengan membiasakan diri dan mengajak mereka untuk :
  • Mencuci tangan dengan sabun 
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Sedot WC secara teratur setiap 2-3 tahun sekali
So, yuk guys mari kita tidak membenarkan apa yang sudah terbiasa, dan membiasakan apa yang sudah benar. Bahwa hidup sehat dan bahagia itu adalah tujuan kita bersama.



No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfaat.
Tunggu kunjungan balik saya di Blog kalian.

Salam hangat