Monday, February 4, 2019

Anak Stunting dan Kurang Gizi, Apa Solusinya?

Permasalahan stunting dan kurang gizi menjadi permasalahan serius yang terjadi di Indonesia, apa solusinya?

Faktanya banyak ibu-ibu yang akan melahirkan anak-anak generasi Indonesia, masih banyak yang belum teredukasi dengan baik. Bagaimana cara merawat anaknya? Bagaimana membesarkan anaknya? Bagaimana memberikan hak kepada anaknya untuk dapat hidup dengan baik?


Kurangnya pengetahuan dan informasi para orangtua mengenai nutrisi untuk mencukupi kebutuhan anak, turut menjadi andil. Masalah gizi sebenarnya sudah dimulai sejak ibu hamil, ketika ibu hamil kekurangan zat besi, kurang gizi, mengalami anemia dan lain sebagainya memungkinkan janin yang ada di dalam perut ibunya, ikut mengalami kekurangan vitamin dan gizi yang dibutuhkan.

Hal tersebut menyebabkan bayi lahir dengan berat badan kurang. Setelah bayi lahir dan kurang mendapatkan ASI, akan berdampak kepada kesehatan anak menjadi buruk, seperti anak menjadi mudah sakit, stunting, gizi buruk, anemia dan sebagainya.
Stunting (pendek) merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan
Hari Selasa, 29 Januari 2019 saya menghadiri diskusi terbatas di Aula LBH Jakarta, yang mengangkat tema Menuju Zero Gizi Bururuk & Stunting 2045.


Dalam acara hari itu Kang Maman Suherman hadir sebagai Moderator dan ada bebrapa pembicara lainnya, yaitu :
  • Bapak. Ir. Doddy Izwardy, MA Direktur Gizi Masyarakat, Kementrian Kesehatan RI
  • Ibu Anisyah S.Si, Apt, MP Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM
  • Arif Hidayat, SH, MH Ketua KOPMAS
  • Ibu Yuli Supriyati Wakil Ketua KOPMAS

Penyebab Anak Balita Stunting (Pendek)

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan 2018 menunjukan 17,7% balita masih mengalami masalah gizi,  dimana gizi buruk sebesar 3,9%. Gizi Kurang sebesar 13,8%. Sedangkan hasil Pantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 tercatat bahwa prevalensi Balita mengalami stunting sebesar 29,6%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya 27,5%. 

Namun, pada tahun 2019 stunting di Indonesia ditargetkan turun menjadi 28%. WHO menyatakan batas maksimal angka stunting bayi di suatu negara adalah 20 persen. Ini artinya stunting balita yang ada di Indonesia saat ini masih di atas batas toleransi yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia tersebut.


Penyebab terjadinya stunting disebabkan oleh banyak faktor, dan tidak hanya disebabkan oleh gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil saja, atau anak balita pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya stunting antara lain ; Pertama, pengasuhan yang tidak baik terhadap anak. Hal ini biasanya disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang gizi pada pada pra kehamilan, masa kehamilan dan setelah melahirkan.

Contohnya banyak kasus dimana ibu tidak memberikan ASI kepada anak mereka, mereka tidak mengetahui betapa pentingnya ASI bagi pertumbuhan bayi anak-anak mereka. Kedua, pelayanan kesehatan yang terbatas, termasuk layanan ante natal care (ANC), post natal dan pembelajaran dini lainnya yang berkualitas.

Penyebab ketiga, Kurangnya asupan makanan bergizi, dimana 1 dari 3 ibu hamil mengalami anemia karena makanan bergizi yang tidak terjangkau. Keempat, kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi untuk kebutuhan sehari-hari, Kita juga masih banyak menemukan perilaku masyarakat yang membuang kotoran di tempat terbuka. Hal ini juga mempengaruhi kualitas air bersih yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan anak.

Dampak Buruk dari Stunting

Stunting mempunyai konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang baik secara fisik (kesehatan) intelektual maupun dampak ekonomi. Adapun dampak buruk yang ditimbulkan oleh stunting adalah :
  • Jangka pendek, terganggunya perkembangan otak , kecerdesan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
  • Jangka panjang, dampak dari segi kesehatan meliputi gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik serta gangguan metabolik pada saat dewasa.  Menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi untuk bermunculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan penyakit yang lainnya. Sedangkan dari segi ekonomi, potensi kerugian ekonomi setiap tahunnya akibat stunting ini yaitu 2-3% dari GDP (jika PDB Indonesia Rp. 10.000 triliun, maka potensi kerugian Rp. 200-300 triliun per tahun.
Melihat hal tersebut untuk mengatasi permasalahan stunting dan kurang gizi ini bukan hanya tugas pemerintah saja, tapi peran dari seluruh lapisan pemerintah, swasta dan masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan.

Badan POM dalam pencegahan stunting ini juga ikut andil, Ibu Anisyah S.Si, Apt, MP Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM mengatakan permasalahan stunting ini juga tidak lepas masih banyak masyarakat Indonesia yang memberikan Susu Kental Manis (SKM) sebagai pengganti ASI, padahal kita tahu bahwa SKM ini bukanlah susu, melainkan sebagai bahan pemanis untuk makanan dan minuman.

Sehingga ada beberapa peran Badan POM untuk pencegahan stunting diantaranya yaitu :
 - Pengawasan Full Spektrum, pengawasan obat dan makanan
- Pengawasan Program Fortifikasi Pangan
- Penetapan Regulasi keamanan, mutu dan gizi pangan khususnya pangan untuk kelompok 1000 HPK
- Pemberdayaan Masyarakat, melalui gerakan masyarakat sadar pangan aman (Germas SAPA), dengan program antara lain :



Bagaimana Solusi Menangani Stunting dan Gizi Buruk?

Permasalahan gizi buruk sendiri sebenarnya menyebar ke seluruh wilayah dan lintas kelompok pendapatan. Artinya, permasalahan stunting dan kurang gizi ini tidak hanya dialami oleh masyarakat ekonomi lemah saja melainkan dialami juga oleh masyarakat menengah ke atas.

Penanganan stunting dilakukan melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif.

Pertama, intervensi stunting gizi spesifik, ditujukan kepada anak dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK) dan berkontribusi kepada 30% penurunan stunting. kegiatan intervensi ini umumnya dilakukan pada sektor kesehatan, misalnya program memberikan makanan tambahan pada ibu hamil. Tujuannya adalah untuk mengatasi kekurangan protein kronis, kekurangan zat besi dan asam folat, kekurangan iodium dan menanggulangi cacingan pada ibu hamil, melindungi ibu hamil dari malaria.

Kedua, intervensi stunting gizi sensitif, idealnya dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% intervensi stunting. pada program ini ada 12 kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah :

1. Mulai dari menyediakan dan memastikan akses terhadap air bersih
2. Menyediakan dan memastikan akses pada sanitasi
3. Melakukan fortifikasi bahan pangan
4. menyediakan akses kepada layanan kesehatan dan keluarga berencana (KB)
5. Menyediakan jaminan kesehatan nasional (JKN)
6. Menyediakan jaminan persalinan universal (Jampersal)
7. Memberikan pendidikan pengasuhan pada orangtua
8. Memberikan pendidikan anak usia dini universal
9. Memberikan pendidikan gizi masyarakat
10. Memberikan edukasi kesehatan seksual dan reproduksi, serta gizi pada remaja
11. Menyediakan bantuan dan jaminan sosial bagi keluarga miskin
12. Meningkatkan ketahanan pangan dan gizi.

Jadikan stunting ini masalah bangsa dan dimulai dengan jujur dalam data untuk bersama-sama menyelesaikannya, Jika kekurangan gizi buruk ini tidak segera diatasi, bangsa Indonesia terancam tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Indonesia juga terancam gagal memanfaatkan jendela peluang dengan bonus demografinya ketika beban tanggungan penduduk usia produktif terhadap penduduk usia non produktif berdasarkan jumlah terkecil. 

Padahal masa tersebut merupakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan negara, dan kemakmuran negara. 

Jangan sampai kita mengubah bonus demografi menjadi masalah demografi.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, semoga bermanfaat.
Tunggu kunjungan balik saya di Blog kalian.

Salam hangat