Ibu Bijak : Yakin Keuangan Keluarga Sehat? Yuuk, Caritahu Melalui Financial Checkup

23.51 Evi Fadliah 4 Comments

Workshop I Financial Literacy Financial Checkup
Heii.. Ladies! Heii Mama!

 Apa siyy yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata financial checkup? Takut dan khawatir pasti sudah ada di benak kita. Memang perlu ya kita melakukan financial checkup? Bagi kita yang sering  merasa kekurangan uang belanja tapi kita nggak tahu habisnya buat apa saja? Bisa jadi bukan pemasukannya yang kurang, tapi penganggarannya yang belum tepat. Rasanya belajar mengenai financial checkup nggak ada salahnya dech.

Bagaimana dengan mama, apakah sudah termasuk dalam orang yang rajin mencatat semua anggaran pemasukan dan pengeluaran setiap bulannya? Jujur, saya sendiri belum mencatatnya secara detail, yang penting kebutuhan keluarga setiap bulan sudah tercukupi. Eh, tapi rasanya qo ketika saya mendengar ada undangan mengenai financial checkup, dalam hati berkata saya harus hadir dengan harapan dapat belajar banyak dari acara ini.

Yess, kesempatan untuk hadir dalam Workshop Financial Literacy kerjasama antara Visa dan OJK (Otoritas Jasa Keuangan), tepatnya di tanggal 25 Juli 2017 di Attarine Jl. Gunawarman Jakarta tidak boleh saya lewatkan. Apalagi dalam acara ini saya dapat bertemu dengan mama lainnya dari komunitas The Urban Mama dan KEB. Acara ini dipandu oleh MC Cisca Becker dan pembicara perihal keuangan yang sudah tidak asing lagi Mba Prita Ghozie.

Pembicara Mba Prita Ghozie
 Biasanya apa saja siy permasalahan uang yang sering kita hadapi? Mulanya, hal ini karena Bad Habit, disebabkan kita belum bisa membedakan antara keinginan dengan kebutuhan. Dengan berpegang teguh pada keperluan bukan keinginan, mama akan bisa lebih berhemat dan tabungan tidak akan mudah habis. Jangan sampai hanya untuk menuruti keinginan, kita rela untuk berhutang, sebab 18 % orang Indonesia punya hobi berutang.

High Lifestyle, ini juga yang membuat kita dibikin pusing dalam permasalahan keuangan, bagaimana tidak 32% orang ada dilingkaran ini, semoga kita tidak termasuk di dalamnya ya Moms. Lalu kita juga dihadapi oleh masalah jumlah saldo hutang (Debt Size) dan bisa juga disebabkan karena adanya inflasi harga.

Lantas bagaimana caranya agar kita bisa mencapai kondisi keuangan yang ideal? Menjadikan keuangan kita menjadi lebih terkendali, ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut, diantaranya :

1. Financial Checkup
2. Membentuk Dana Darurat
3. Mengatur Utang
4. Membuat Anggaran Belanja
5. Merencanakan Keuangan

 Sebagian orang merasa belum perlu melakukan financial checkup dengan alasan yang klasik. Merasa hidup saat ini "sangat nyaman" karena sudah Bergantung pada pekerjaan yang tetap dan sudah memiliki banyak Tabungan, akan tetapi tidak punya Rencana Keuangan

Padahal dengan bantuan financial checkup, maka dapat diketahui seperti apa kondisi keuangan rumah tangga kita, kita dapat mengetahui kondisi keuangan kita berada di kategori yang mana? Apakah keuangan kita sudah sejahtera? Berikut klasifikasinya ya mama.


Peringkat Sehat Keuangan
Jadi, mama akan mengetahui kondisi keuangan kita berada di kategotri yang mana :

Tidak Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan.

Sehat adalah kondisi dimana pengeluaran sama besarnya dengan penghasilan.
Mandiri adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran.
➮ Sejahtera adalah kondisi dimana penghasilan lebih besar daripada pengeluaran, dan juga adanya kepemilikan penghasilan pasif dari aset, tidak punya utang, serta kemampuan berderma.

Untuk melakukan financial checkup, ada 3 perangkat yang harus kita lakukan :



3 Perangkat Financial Checkup
1. Mengisi Tabel Kekayaan Bersih

Dalam melakukan pengisian tabel ini, mama harus membaginya menjadi 2 kolom, yaitu kolom Aset dan kolom Kewajiban.


Untuk memudahkan mama, kita harus mencatat aset apa saja yang sudah kita miliki :


- Aset Kas 

Yang termasuk di dalam aset kas ini ada tabungan, deposito dan reksadana pasar uang.

- Aset Investasi

Terdiri dari ORI/Sukuk ritel, logam mulia, reksadana pendapatan tetap, campuran/saham dan unit link.

- Aset Konsumsi

Rumah/Apertemen yang kita tempati dan kendaraan merupakan aset konsumsi.

Setelah mama mencatat aset yang dimiliki, jangan lupa untuk mencatat juga kewajiban apa saja yang harus kita selesaikan.


Utang jangka pendek : utang kartu kredit dan utang pinjaman dana tunai.

Utang jangka panjang : kredit perumahan, kredit kendaraan dan yang lainnya.

Setelah kita mencatat semua hal tersebut, untuk mengetahui rumus kekayaan bersih kita yaitu : Total Aset-Total Kewajiban


2. Mengisi Tabel Arus Kas


Membuat pencatatan pemasukan dan pengeluaran, untuk membantu dalam pengisian tabel kas ini, bisa dengan cara mengumpulkan data-data seperti bon belanja, melakukan pengecekan mutasi rekening dan yang lainnya selama 3 bulan. Waktu di awal-awal nikah saya rajin mencatat arus kas masuk dan arus kas keluar, tapi setelah memiliki anak hal tersebut tidak saya lanjutkan.. Ehhmm harusnya siy lebih konsisten yahh!


Lalu, sebenarnya arus kas masuk dan arus kas keluar itu apa saja siy?


Arus Kas Rutin dan Tidak Rutin
Begitu pula dengan jenis pengeluaran, harus ada pos-pos pengeluaran yang harus mama buat :


  • Wajib dan tetap : Cicilan pinjaman, uang sekolah, gaji ART, supir dan premi asuransi
  • ➮ Wajib dan fluktuatif : listrik, telepon, biaya makan/dapur, transportasi, tabungan & investasi
  • ➮Tidak wajib dan tetap : Internet, tv kabel, les anak & pribadi, majalah, koran dan arisan
  • ➮ Tidak wajib dan fluktuatif : Hiburan, hadiah, angpao, kafe & kongkow, liburan

3. Hitungan Rasio Keuangan

Adapun hal-hal (pos-pos) yang harus diperhatikan di dalam analisa ini adalah :

Rasio Dana Darurat


Dalam menganalisa dana darurat ini, mama harus pastikan ketersediaan dana ini, dan menentukan apakah dana yang ada sudah cukup dengan kondisi atau situasi kita saat ini? Karena, persiapan dana darurat ini sangat banyak manfaatnya, yang bisa kita gunakan dengan tujuan untuk dana dadakan, seperti : untuk biaya rumah sakit, jika suatu waktu ada anggota keluarga kita yang harus periksa ke Dokter atau masuk rumah sakit. Jika terjadi musibah, jika harus memperbaiki kerusakan barang-barang yang signifikan dan memerlukan biaya lumayan besar, contohnya jika AC rusak, kulkas rusak, memperbaiki kondisi rumah, dll.


Idealnya ciri-ciri dana darurat itu sebagai berikut :



  • - Minimal 3x pengeluaran rutin bulanan
  • - Dibuat dengan terpisah
  • - Tambahan untuk kondisi spesial 

Rasio Menabung


Untuk mengetahui kesehatan tingkat tabungan kita, mama harus memperhatikan banyaknya likuiditas yang ada dan kecukupan jumlah simpanan, usahakan untuk panghasilan yang kita dapatkan tidak langsung dihabiskan. Setelah mama mengeposkan pengeluaran, masih ada sisa yang bisa mama tabungkan.


Rasio Berutang


Mama harus perhatikan jenis hutang-hutang yang ada, apakah hutang tersebut untuk masa sekarang atau untuk jangka panjang. Karena jika kondisi mama memaksakan untuk berhutang, maka hutanglah yang produktif, maksudnya produktif itu seperti apa ya?


Ternyata hutang produktif itu yang dapat memberikan Nilai Manfaat, jadi nilai manfaat yang kita dapatkan harus lebih panjang dari nilai pembayaran cicilan. Kemudian utang yang dapat Mendatangkan Penghasilan, dengan bantuan pinjaman maka memiliki aset yang berpenghasilan. Selanjutnya, harus memperhatikan Suku Bunga Pinjaman, upayakan suku bunga yang efektif bukan tertera atau flat. 


 Pada kesempatan siang itu, Mba Prita Ghozie memberikan penjelasn perihal penggunaan kartu kredit, beliau pun mengakui keberdaan kartu kredit sangat membantunya, dengan catatan kita harus Bijak dalam menggunakan kartu kredit, diantaranya :



Bijak Menggunakan Kartu Kredit
➮ Berfungsi sebagai pengganti uang tunai, bukan untuk tambahan penghasilan
➮ Penundaan pembayaran, bukan ngemplang 
➮ Kemudahan transaksi saat darurat

Hasil Finacial Checkup


Untuk mengetahui hasil Finacial Checkup ini ada 3 indikator yang kita gunakan, apa saja?

Indikator yang pertama : Rasio Menabung 

Rumus yang digunakan, Investasi setahun/Penghasilan rutin dalam setahun, jika hasilnya 0%-5% maka keadaan keuangan kita sedang Gawat Darurat. Jika berada di angka 10% maka kita masih Pemula, sedangkan jika kondisinya 25%-30% maka bisa dikatakan keuangan kita Sehat Ideal


Indikator yang kedua : Rasio Kemampuan Membayar Cicilan


Rumus yang digunakan, Komitmen Utang setahun/Penghasilan rutin setahun, jika hasilnya di atas 35 % Gawat Darurat, 30% sebagai Pemula, 0%-20% Sehat Ideal


Indikator yang ketiga : Rasio Likuiditas


Rumus yang digunakan Aset kas lancar/Pengeluaran rutin, jika hasilnya 0 = Gawat Darurat, 2x pengeluaran rutin bulanan = Pemula, 12x pengeluaran rutin bulanan dikatakan Sehat Ideal.


 So, mama apakah sudah mulai terbuka dan tersadarkan dengan kondisi keuangan kita sekarang ini? To be honest, mengikuti workshop ini, membuka lebar mata dan pikiran saya tentang keuangan keluarga kecil saya yang masih jauh dari kata Sehat Ideal. Terutama perihal bad habbit atau kebiasaan buruk yang membeli sesuatu karena keinginan bukan karena kebutuhan. 


Peserta Workshop yang hadir pada saat itu, juga diajak oleh Mba Prita Ghozie untuk mengisi data pemasukan yang berasal  dari Gaji, keuntungan usaha, bonus/honor untuk dialokasikan ke beberpa pengeluaran seperti : sedekah, cicilan utang, dana darurat, biaya hidup, gaya hidup dan investasi. Setelah mengisi data tersebut kita bisa mengetahui, alokasi yang ideal itu seperti apa? 


Berikut gambaran alokasi keuangan yang ideal :


5% untuk Zakat atau sedekah

10% Menabung dana darurat
30% Biaya hidup
30% Cicilan Pinjaman
15% Investasi
10% Gaya hidup

Ingat ya Mama totalnya harus 100%, jangan sampai lebih ataupun kurang.


 Mama, sudah kah menerapkan alokasi keuangan yang ideal untuk kondisi keuangan keluarga kita? Semoga melalui pemaparan diatas semakin menyadarkan kita, betapa melakukan Financial Checkup itu sangatlah penting, untuk mengetahui kondisi dari keuangan kita yang sebenarnya. Tidak perlu malu apalagi merasa takut, karena belum ada kata terlambat, mulai saat ini kita lakukan hal-hal diatas agar dapat mengetahui hasil dari kondisi keuangan keluarga kita.


Terakhir kapan waktu yang tepat untuk melakukan Financial Checkup? Menurut Mba Prita, waktu yang paling ideal adalah di awal tahun, namun jika belum sempat dapat dilakukan pada bulan Maret atau April karena di bulan-bulan ini biasanya waktunya kita membayar pajak. Bagaimana kalau sampai bulan ini kita belum melakukanya? 


Tenang, masih bisa kita lakukan qo, Apalagi di bulan Juni-Juli kemaren banyak pengeluaran kita yang dari biasanya, hal tersebut karena bertepatan dengan bulan puasa, hari raya Idul Fitri dan kenaikan kelas/masuk sekolah anak. Mama semoga dengan melakukan Finacial Checkup kondisi keuangan keluarga kita kedepannya akan semakin membaik yahh! Semoga kita bisa berada diposisi Mandiri, bersyukur jika kita bisa mencapai pada posisi Sejahtera. Aamin































4 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

      Hapus
  2. sha belajar tentang financial check up ini akhir 2015 lalu. alhamdulillah, udah kerasa banget manfaatnya apalagi pas tiba2 ada masa krisis :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, dan memberikan coment mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.