Apa saja Peran Orangtua untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045?

05.21 Evi Fadliah 2 Comments

Penampilan Anak-Anak dengan IQ Tinggi
Anak adalah untuk zaman yang akan datang bukan untuk zaman kita,
Salahlah pendidikan orangtua yang hendak memperbuat 
anaknya seperti mereka juga (Hamka)

Jika kita berbicara perihal permasalahan gizi, memang tidak ada habisnya dan hal ini menjadi perhatian kita semua. Pastilah orangtua berperan penting dalam memberikan nutrisi yang terbaik untuk pertumbuhan anak-anak mereka. Apalagi usia 0-5 tahun merupakan masa investasi yang tepat untuk pertumbuhan otak anak dapat berjalan dengan baik, dan dapat menghindari yang namanya loss generation.

Banyak tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, salah satunya adalah  permasalahan kemiskinan, faktor tersebutlah yang menjadikan permasalahan gizi pada anak-anak. Hal ini bukan hanya dihadapi oleh Indonesia sendiri tapi hampir di seluruh belahan bumi ini. Sampai saat ini permaslahan gizi masih menjadi pekerjaan pemerintah yang belum terselesaikan.

Sebut saja permasalahan kurang gizi, kelebihan gizi dan juga permasalahan stunting atau terhambatnya pertumbuhan anak. Adanya permasalahan kekurangan dan kelebihan gizi, menggambarkan bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang asupan gizinya kurang seimbang. Informasi mengenai permasalahan gizi demi terwujudnya Indonesia Emas 2045, saya dapatkan ketika mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam rangka memperingati hari anak nasional 2017. Tepatnya, hari senin tanggal 7 Agustus 2017, bertempat di Aula Kementrian Pendidikan & Kebudayaan RI di Jl. Jenderal Sudirman Senayan Jakarta.

Kenapa tahun 2045 yahh?

Karena pada tahun 2045 nanti tepat bangsa tercinta kita Indonesia berusia satu abad. Diharapkan pada tahun ini Indonesia sudah benar-benar bisa terbebas dari yang namanya ancaman gizi buruk. Masalah utama dari gizi buruk bukanlah disebabkan hanya karena anak susah makan, tetapi jika orang tua memberikan atau menyediakan makanan untuk anak mereka dengan kandungan gizi yang salah, apalagi jika sampai kekurangan asupan makanan, maka masalah yang lebih besar nanti akan muncul di kemudian hari.

Perlu diingat memberikan makanan yang banyak memang bisa membuat anak menjadi kenyang, namun lebih baik memberikan gizi yang cukup untuk menjamin pertumbuhan anak yang baik dan sempurna. Asupan gizi yang baik pada anak-anak usia dini bukan hanya baik untuk pertumbuhan dan perkembangan otaknya saja, tapi juga bermanfaat untuk mencegah berbagai serangan penyakit baik yang disebabkan oleh virus maupun kuman dari luar.

Mengapa anak-anak tidak boleh kelebihan gizi?

Meskipun permasalahan kekurangan Gizi di Indonesia yang dapat menyebabkan berat badan anak kurang atau tubuh anak bertumbuh pendek saat ini sudah menunjukan penurunan, namun masalah lain juga mengancam anak-anak Indonesia, yaitu masalah kelebihan gizi atau overweight. Anak dengan kondisi overweight ini di kemudian hari akan memiliki kecendrungan obesitas. Hal ini yang diangkat oleh Dokter Eni Gustina MPH, Direktur Kesehatan keluarga Indonesia, Kementrian kesehatan RI.

Dr. Eni Gustina MPH, Direktur Kesehatan keluarga Indonesia,
Kementrian kesehatan RI
Anak-anak yang kelebihan gizi saat usia balita, akan tetap menjadi gemuk saat dewasa nanti. Sehingga hal ini akan mempercepat terjadinya stroke, hipertensi, dan diabetes. Tiga penyakit tidak menular tersebut yang paling banyak menyebabkan kematian di Indonesia. Untuk itu peran orang tua dalam 1000 hari pertama kehidupan anak untuk pemberian gizi yang baik kepada anak sangat diperlukan.

Anak yang Overweight
Gizi terbaik dari anak bisa didapatkan dari ASI, namun permasalahannya tidak semua ibu dapat memberikan asi lanjutan kepada anaknya. Meskipun begitu pemberian asupan gizi dari sumber yang lain juga harus seimbang dan memenuhi standar. Selain itu pemberian susu formula juga diperbolehkan namun, para orangtua jangan sampai salah memilih, karena masih banyak orangtua yang salah paham dengan memberikan susu kental manis kepada anak-anak mereka.

Fakta lain tentang Susu Kental Manis (SKM)

Dr. TB Rachmat Sentik, S. pA, MARS
Menurut Dr. TB Rachmat Sentik, S. pA, MARS pada kesempatan itu mengatakan sebenarnya fungsi dari susu kental manis (SKM) adalah sebagai penyedap dan pelengkap makanan saja, karena di dalamnya hanya berisi gula saja. Dimana 50% gula, 7,5% rotein, 8,5% lemak serta 34% air dan bahan tambahan lainnya. Jika melihat lebih jauh bahwa dalam satu takaran saji 1 gelas = 150 ml air dan 4 sendok SKM, mengandung 20 gr gula atau setara dengan 2 sendok makan. Tentu saja itu termasuk tinggi, karena anjuran asupan gula harian tidak melebihi 25 gr.

Bagaimana jika hal tersebut terus berlangsung dan kita sebagai orangtua terus memberikan SKM kepada anak? Bahaya untuk jangka pendek, kira-kira  kurang lebih selama 7 hari setelah mengkonsumsi SKM, pada anak balita akan mengalami batuk. Biasanya batuk ini akan timbul pada saat anak akan tidur, hal ini disebabkan karena kandungan lemak dan gula pada SKM meninggalkan lendir pada tenggerokan anak, sehingga pernapasan anak menjadi terganggu.

Sedangkan untuk jangka panjang, bahaya dari SKM akan menyebabkan potensi penyakit obesitas dan penyakit gula. Pada akhirnya menyebabkan oksidan secara bertahap yang akan melemahkan daya tahan tubuh anak sehingga akan menyebabkan mudah terserang penyakit jika dewasa nanti. Jadi perlu dicatat oleh para orangtua bahwa kandungan nutrisi itu tidak akan mungkin didapat dari susu kental manis (SKM).

YAICI

Dra. Leny Nurhayanti Rosalin, MSc
(Deputi Tumbuh Kembang Anak, Kementrian Negara PP-PA)
Dalam peringatan hari anak nasional 2017 yang diadakan oleh Yayasan Abhiparya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) ini Dra. Leny Nurhayanti Rosalin, MSc (Deputi Tumbuh Kembang Anak, Kementrian Negara PP-PA) yang menjadi salah satu narasumber pada hari itu mengingatkan Indonesia Emas 2045 akan terwujud jika orangtua mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka, bahwa keluarga adalah refleksi lingkungan pertama dimana anak-anak yang dibawah asuhan mereka mulai berlatih untuk mengenal kehidupan dan membekali diri di segala aspek, sebelum akhirnya mereka nanti terjun dalam lingkungan masyarakat.

Sebagai orangtua kita harus bisa menciptakan suasana yang nyaman dan membuat anak-anak merasa dibutuhkan serta dipenuhi hak-hak mereka. Sehingga kita dapat memaknai apabila kita dapat memenuhi itu semua, setidaknya kita telah menjauhkan anak sebagai korban perlakuan tidak sepantasnya dari orangtua atau anggota keluarga lainnya. Sehingga hak-hak yang dimaksud disini yaitu hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusian. Serta hak mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Harapan dengan adanya peringatan HAN 2017 ini hendaknya dapat menjadi landasan untuk mewujudkan peran orang tua yang lebih maksimal, yang mampu mengasuh, membina, dan memberi perlindungan pada anak sehingga menjadi anak Indonesia yang sehat, kreatif dan berakhlak mulia tanpa harus menunggu tahun 2045 nanti. Selain itu orang tua juga harus sebisa mungkin dapat menemani anak di saat mereka sedang asik dengan gadget atau dengan tontonan televisi.

Dewi Setyarini, Komisioner KPI Pusat
Ibu Dewi Setyarini, Komisioner KPI Pusat yang turut hadir pada saat itu mengatakan saat ini pihak KPI sudah berusaha untuk memberikan konten tontonan yang baik bagi anak-anak. Oleh karena itu Pihak KPI tidak dapat melakukan ini sendirian, kecuali adanya dukungan dari semua pihak termasuk peran dari orangtua yang sangat besar.

Seiring berkembangnya dunia pertelevisian, pilihan tontonan saat ini semakin beragam, penonton semakin dimanjakan tak terkecuali dengan anak-anak. Maka peran orangtua dalam mendampingi anak saat menonton, sudah menjadi peran mutlak dalam menentukan apa yang harus ditonton oleh anak-anak. Mengutip dari perkataan orang tua Dr. Chen yang ditulis dalam bukunya anak-anak dan televisi

"Menonton TV adalah kegiatan khusus. Program-program harus diseleksi, setiap kegiatan menonton harus ada akhirnya, dan pesawat TV boleh dihidupkan hanya pada saat-saat tertentu. Kami (anak) tidak boleh banyak-banyak menonton TV pada malam hari, khususnya program-program yang menampilkan kekerasan"

Menemani Anak saat Menonton Televisi
Ikut mengawasi anak saat menonton, memberikan pengarahan dari setiap apa yang mereka lihat dan memberikan nilai dari tayangan yang dilihat akan memberikan kedekatan secara emosional antara orangtua dan anak. Sebaiknya kita sebagai orangtua dapat memilihkan program siaran televisi yang sesuai dengan umur dan minat mereka . Kita harus bisa menjadikan program-program televisi menjadi sarana pendikan yang baik untuk anak, karena anak-anak akan lebih mudah menerimanya melalui tontonan.

Meskipun pemerintah dan KPI telah ikut berperan dalam pemelihan maupun penyeleksian program siaran bagi anak, namun konteks keluarga orangtua lah yang paling banyak berperan dalam menentukan pendidikan anaknya. Karena kita lah yang setiap hari, setiap waktu yang sering mendampingi anak-anak. Marilah bersama-sama kita memberikan asupan nutrisi yang terbaik kepada anak-anak kita agar dapat terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Acara HAN 2017






















2 komentar:

  1. Orangtuanya mempunyai peran yg sangat penting dlm tumbuh kembang anak. Oleh sebab itu perlu kita sebagai orang tua memperhatikan nutrisi terbaik untuk anak² nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba, apalagi orang tua merupakan madrasah utama bagi anak2nya. Kalau tidak dimulai dari rumah, siapa lagi yang akan perduli.

      Hapus

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, dan memberikan coment mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.