Penganugerahan 8 TKI Inspiratif Pilihan Tempo yang Telah Berjasa & Menginspirasi Lingkungan Sekitarnya

23.29 Evi Fadliah 6 Comments


Senin, tanggal 15 Mei 2017 yang lalu saya menghadiri acara Penganugerahan & Diskusi : Perbaikan Sistem Perlindungan TKI, bertempat di Ballroom Hotel Millenium Lt.3 Jl. Fachrudin No.3, Tanah Abang Jakarta Pusat.

Dalam acara ini menghadirkan beberapa narasumber : Bapak Maruli Apul Hasoloan, Direktur Jendral Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja, Kementrian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Bapak Dede Yusuf, Ketua Komisi IX DPR RI, Ibu Anis Hidayah, Kepala Pusat Studi Migrant Care, ada juga Bapak M Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia sebagai Keynote Speaker serta Bapak Wahyu Dhyatmika Redaktur Eksekutif Majalah Tempo dan Temppo English yang bertindak sebagai moderator.

Jujur sebagai orang awam saya tidak mengetahui banyak perihal para tenaga kerja migran indonesia, namun dengan adanya acara ini sedikit banyak pengetahuan saya menjadi bertambah, apalagi pada kesempatan itu kita mendengarkan dan mengetahuinya langsung dari para pekerja imigran itu sendiri. Biasanya saya sering mendengar dan melihat berita yang mengerikaan tentang TKI.

Apalagi di salah satu telivisi swasta Indonesia ada yang mengangkat cerita tentang para  pekerja Imigran tersebut, dan sinetron ini pun berhasil menyedot para penikmat sinetron di rumah, termasuk saya yang menjadi penonton setianya. Heheheh

Dalam tayangan tersebut pun menggambarkan kehidupan keluarga para pekerja imigran yang menikmati hasil jerih payahnya dari anggota keluarga mereka yang bekerja di luar negeri. Dikisahkan juga mereka yang mampu dan meraih sukses di luar dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka yang berada di Tanah Air bahkan mampu menyisihkan pendapatan untuk masa depan keluarga mereka.

Itu gambaran kisah yang ada di salah satu sinetron Indonesia, sedikit banyak memang ada persamaannya dengan apa yang terjadi di lapangan. Bapak Arief Zulkifli selaku Pemimpin Redaksi Majalah Berita Mingguan Tempo mengatakan media selalu beranggapan "bad news is god news, good news is not news"

Latar belakang adanya penganugerahan 8 TKI

Bapak Arief berujar perlu adanya perubahan tanggapan mengenai berita pekerja migran "Good news is news." Diharapkan kelak para TKI tidak dikonotasikan sering bermasalah, dengan adanya penghargaan ini para pekerja migran dianggap mampu memberikan inspirasi kepada masyarakat, Khususnya bagi TKI itu sendiri jadi lebih gigih dan bekerja keras, sehingga mampu memberikan perubahan yang positif bagi diri dan lingkungannya.

Diharapkan pula masyarakat Indonesia mengetahui bahwa ternyata banyak para TKI yang telah sukses bahkan menjadi sosok yang teladan dan memberikan inspirasi untuk orang banyak. Sehingga mereka bisa menciptakan lapangan kerja untuk masyarakat tempat tinggalnya.

Perjalanan pemilihan 8 TKI inspiratif



Saat ini lebih dari 6 juta tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sekitar 146 negara di seluruh dunia, tentu itu bukanlah jumlah yang sedikit. Banyak yang mendorong warga Indonesia untuk bekerja di luar bukanlah karena pilihan tapi mereka tidak mempunyai pikihan, Dimana kesempatan kerja di luar Indonesia tersedia sehingga menjadi magnet tersendiri untuk mereka mencari pekerjaan disana.

Setiap tahunnya, rata-rata ada 400 ribu pekerja yang berangkat ke berbagai belahan dunia, Majalah Tempo mengupas pencapaian-pencapaian pekerja migran yang sukses di negara tempat mereka bekerja atau mereka yang sudah kembali ke Tanah Air Tercinta.

Tim Tempo bergerak melalui potongan-potongan informasi dari berbagai sumber diantaranya dari Kemenaker, BNP2TKI serta organisasi masyarakat sipil. Hasil seleksi dari sekitar 5.000 orang kemudian dipersempit menjadi 14 nama, dari nama-nama tersebut dianggap telah berhasil mengatasi berbagai tantangan yang mereka hadapi.

Setelah dilakukan penelusuran lebih jauh, terpilihlah 8 orang yang dianggap berjasa membangun dan memberikan inspirasi terhadap masyarakat sekitarnya. Adanya pemilihan pekerja migran inspiratif ini bukan untuk menutupi kisah dan sisi sedih para tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Delapan TKI Inspiratif pilihan Tempo

Dwi Tantri yang saat ini berusia 49 tahun, merupakan perempuan asal Surabaya yang menjadi TKI di Taiwan. Beliau tak hanya bekerja sebagai perawat orang jompo, tapi ia juga aktif memberikan advokasi kepada ribuan TKI yang tersandung masalah. 

Namun beliau tidak dapat hadir dalam acara ini dan diwakilkan oleh keluarganya karena Ia saat ini masih bekerja di luar negeri.

Budi Firmansyah, pria 36 mantan ABK di Okinawa, Jepang dan juga menjadi pembela ribuan TKI dan saat ini beliau juga menjadi manajer di salah satu perusahaan penyalur tenaga kerja di Okinawa. Karena beliau masih bekerja di luar negeri sehingga untuk penerima penghargaan diwakili  oleh keluarga beliau.

Siti Badriyah Ibu yang berusia  41 tahun ini, beliau membagikan ceritanya pada sore itu, dimana Ia merupakan korban KDRT, sehingga untuk melanjutkan hidupnya Ia menjadi tenaga kerja di Malaysia, ternyata penderitaan yang diterimanya belum berhenti sampai disitu. Beliau ditupu oleh agencynya, dimana saat di Malaysia, Ia bekerja di dua tempat, pagi hari sampai malam beliau bekerja di tempat usaha majikannya sedangkan pada malam harinya beliau harus bekerja sebagai ART di rumah majikannya. penderitaan tersebut berlangsung selama 9 bulan, bukannya gaji yang di dapat justru malah penyiksaan yang beliau terima.


Hingga akhirnya beliau melarikan diri untuk kembali ke Tanah Air dengan menggunakan kapal barang. Karena pengalaman buruk yang telah diterimanya dan tidak ingin hal tersebut menimpa kepada TKI yang lain, saat ini Ibu Siti badriyah aktif di konsorsium Pembela Buruh Migran (Kopbumi) dan Migrant Care.

➭ Kisah selanjutnya kami mendengar cerita dari Ibu Nurul Hasanah, mantan TKI yang bekerja di Arab Saudi nasibnya sangat beruntug karena dapat majikan yang baik. Hingga akhirnya beliau aktif menjadi kadder kesehatan dan membantu mengelola uang kiriman TKI. Sampai akhirnya saat ini beliau menjadi salah satu anggota DPRD Lombok Timur sari PDIP.

➭ Bapak Sutriyana yang berasal dari Kulon  Progo Yogyakarta, merupakan mantan operator di Malaysia selama 6 tahun kemudian pulang kedesanya dan membuka usaha pengelolaan gula semut. Hebatnya lagi beliau membuka lapangan kerja untuk lingkungan sekitarnya kurang lebih beliau memiliki 30 orang pekerja dan 80 % dari produknya sudah diekspor.

➭ Kemudian ada kisah inspiratif lainnya dari Ibu Siti Mariam Ghozali alias Maria Bo Niok, asal Wonosobo, Jawa Tengah, beliau merupakan mantan TKI di Hong Kong dan Taiwan yang aktif mengikuti kursus bahasa Inggris dan Mandarin selama bekerja disana. Beliaupun rajin menulis cerita pendek dan banyak novel karyanya yang sudah diterbitkan.

Selain jadi penulis Ibu Siti juga memiliki usaha makanan tiwul instan secara online dan marketnya hingga saat ini sudah sampai di ekspor ke luar negeri. 

➭ Mantan TKI di Hong Kong asal Bogor yang bernama Ibu Heni Sri Sundani. Sebelum menjadi TKI beliau memiliki impian  untuk menjadi guru untuk anak-anak senasib. Hingga akhirnya di tahun 2012, Ibu Heni mendirikan Gerakan Anak Petani Cerdas. Awalnya Ia hanya mengajari 15 anak petani di lingkungan sekitarnya, akhirnya melebar ke kampung-kampung sekitarnya sampai saat ini tersebar  di lima kabupaten Jawa Barat.

➭ Penerima award yang terakhir bernama Bapak Yusup Nuryana asal Desa Hegarmanah, Bayongbong, Garut Jawa Barat, beliau merupakan mantan TKI di Brunei. Pada kesempatan sore itu beiau bercerita mengalami kecelakaan di bagian tangan sebelah kirinya pada saat kerja di Brunei hingga hal tersebut memaksa beliau untuk pulang ke Indonesia.

Uang asuransi akibat kecelakaan tersebut tak kunjung cair, namun beliau masih beruntung karena mendapatkan bantuan dari pemerintah Indonesia berupa keterampilan dan kewirausahaan. Modal yang diberikan dari pemerintah Indonesia dimanfaatkan dengan baik oleh Bapak Yusup, hingga usahanya yang mengembangkan tenun akar wangi untuk dibuat beraneka suvenir sukses dan memperkerjakan belasan wanita di desanya.

Semoga kedepannya para pekerja migran tidak lagi dianggap sebagai komoditi sehingga dikirim sebanyak-banyaknya, seharusnya prespektif TKI menjadi sejahtera baik untuk dirinya dan keluarganya. Niat pemerintah sudah baik diharapkan penerapannya juga akan baik untuk melindungi para TKI.

Adanya penghargaan ini untuk merayakan para 8 TKI Inspiratif pilihan Tempo dapat membalikan keadaan mereka menjadi lebih baik dan dapat merubah Bad news menjadi Good News.








6 komentar:

  1. Keren nih acara, inspiratif banget dan amazing cerita-ceritanya ya. Mulai dari yang masih berumur 36 tahun tapi sudah bisa menjadi pembela ribuan TKI di Jepang, sampai ada yang bisa jadi anggota DPRD duhh merinding nih ngetiknya, bahkan sampai ada yang bisa masarin tiwul secara online dan sampai ke luar negri pula. Masyaallah inspiratif sekali, layak mereka mendapatkan penghargaan sepeti ini dan semoga bisa dicontoh oleh orang lain ya

    BalasHapus
  2. Yess kagum dan salut sama para pekerja migran ini, meskipun tak semuanya memiliki nasib yang bagus saat bekerja di negara orang tetapi mereka bisa membalikan keadaan itu semua.

    Pantas jika mereka di apresiasi, semoga kedepannya semakin banyak yang terinspirasi dan Good News is News,

    BalasHapus
  3. Acara ini seru banget ya dan sangat menginspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga semakin banyak kisah inspiratif lainnya dari para pekerrja Migran Indonesia.

      Hapus
  4. Beberapa dari mereka ada yang karena kasus yang dialami sebelumnya, empatinya jadi sangat besar ya untuk menolong sesama TKI. Mba Evi btw fotonya coba dikecilin resize-nya biar lebih kinclong.

    BalasHapus
  5. Bener Miss, mereka tidak ingin hal buruk yang menimpa dirinya dialami juga oleh Pekerja Migran lainnya.
    Ini Foto sudah ukuran Midle lho Miss, tapi hasilnya tetep Big yooo.. heheheh

    Anyway Thanks ya Miss

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, dan memberikan coment mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.