Film Kartini : Bukan Sekedar Emansipasi Wanita

01.11 Evi Fadliah 7 Comments


"Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, 
tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya"

Selamat Pagiiii...!!

Begitulah sapa dari sang pembawa acara menyapa kami para Blogger dan Media yang sudah duduk manis di kursi masing-masing sesuai dengan nomer tiket yang telah kami dapatkan. Ya tepat sekali sebelum kami mulai menyaksikan Film Kartini, Ibu Nini Sumohandoyo selaku Director Communications di Prudential Life Assurance  memberikan kata sambutannya. 

Pada kesempatan ini Rabu 12 April 2017 di Djakarta Theater XXI Thamrin Menteng Ibu Nini mengatakan senang sekali dengan acara nonton bareng ini #PruMovieDayKartini, karena Kartini merupakan lambang kebangkitan wanita Indonesia. Menurut beliau film ini mengingatkan kita soal nilai-nilai yang diperjuangkannya. Sehingga bersyukur bisa mendapatkan undangan dari @Blogger Reporter ID

Semangat Kartini dan kebangkitan perempuan juga terus disuarakan di @id_prudential. Hal itu terbukti 60% karyawan Prudential adalah wanita. Ibu Nini mengajak kepada teman-teman semua untuk terus mensuarakan perjuangan Kartini dan juga emansipasi wanita.

Selain itu hadir pula sang sutradara sekaligus sang penulis Hanung Bramantyo, dimana beliau mengatakan permintaan maaf karena telah membuat sebuah film biografi dari tokoh perjuangan emansipasi wanita indonesia Kartini. 

Hanung juga mengatakan bahwa film ini lebih ditujukan kepada laki-laki ketimbang perempuan. Agar para pria tau betapa perjuangan seorang perempuan sangat berat, karena anak perempuan kita adalah Kartini, Ibu kita adalah Kartini, Istri kita adalah Kartini dan Saya adalah Kartini.



Hanung sebagai sang sutradara menggambarkan Kartini (Dian Sastrowardoyo) dalam kegalauan sebagai pembuka dari adegan film ini, kemudian kita diajak untuk kilas balik saat kartini kecil, yang senang dipanggil dengan nama Trinil.

Sejak kecil Kartini sudah memulai pemberontakannya ketika Dia harus dipisahkan dari ibu kandungnya, Ngasirah muda diperankan oleh Nova Eliza hanya karena ibunya bukan seorang Bangsawan. Dengan tujuan kelak Kartini menjadi Raden Ajeng yaitu perempuan yang disiapkan menjadi istri Bangsawan dan dapat bersekolah. Yang membuat Kartini kecil sangat sedih menjalankan pingitan ini karena dia harus menunggu sampai ada lelaki yang meminangnya untuk dinikahi.

Tak seperti Kakanya Soelastri (Adinia Wirasti) yang menjalani pingitan dengan senang hati. Kartini merasa tersiksa dan selalu berkelu kesah dalam menjalankan pingitannya, beruntung Kartini memiliki seoarang kakak Sosro Kartono (Reza Rahardian) yang sangat memahami sifat adenya tersebut.

Disinilah awalnya dengan sebuah kunci pemberian dari kakanya Sosro yang mengantarkan Kartini membuka jendela dunia. Disini Kartini berkenalan dengan tokoh feminis Belanda yang bernama Cecile de Jong (Carmen van Rijnbah), beliau yang telah menulis mengenai Hilda van Suylenburg. Hingga akhirnya dengan buku-buku yang dibacanya membawa Kartini menjadi perempuan yang melampaui kaum pada zamannya tersebut.

Sang sutradara Hanung Bramantyo pada film ini menggambarkan sosok Kartini yang berkenalan dan sekaligus bertemu dengan sosok tokoh feminis Belanda yang seolah-olah seperti nyata dan menjadi teman dekat. Dinding kamar yang menjadi pembatas pingitan Kartini tak menghalangi semangat beliau untuk terus belajar.

Dalam kamar pingitannya Kartini bisa berkelana bebas dan semangat itu Ia tularkan kepada kedua adiknya Kardinah (Ayusitha Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa) yang saat itu tiba masa pingitan mereka, hal tersebut harus mereka jalani karena sesuai dengan adat dan tradisi pada saat itu. Bagi Kartini perempuan punya hak atas tubuh dan masa depannya, dan tidak hanya dijadikan sebagai perhiasan laki-laki saja.

Menjalani pingitan dalam satu kamar membuat hubungan mereka sebagai saudara semakin erat dan kompak meskipun dibawah kungkungan dan aturan yang mendera. "Panggil Aku Kartini saja, tak perlu dengan embel-embel Raden Ajeng" pintanya kepada adik-adiknya. Sosok Dian Sastro sangat apik memerankan tokoh kartini, dimana ada saatnya ada adegan mereka manjat dan duduk di atas tembok sehingga menampilkan sisi tomboy dari 3 bersaudara tersebut.

Selain itu Dian Sastro juga berhasil menampilkan sosok Kartini sebagai pribadi yang pintar, hangat dan memilki pendirian yang sangat kuat dan Dia sangat tahu apa yang Dia inginkan untuk masa depannya, masa depan untuk kaum perempuan.


Meskipun pada awalnya apa yang putri-putrinya lakukan di tentang oleh sang Romo sebagai ayah mereka yang diperankan oleh Deddy Sutomo dan juga kakak tertua mereka Raden Mas Slamet (Denny Sumargo), namun karena melihat semangat, kepintaran serta bakat yang dimiliki oleh ketiga putrinya akhirnya sang Romo mendukung kegiatan mereka dalam menuntut ilmu. Termasuk mendukung Kartini untuk mengajukan proposal beasiswa ke Belanda

Karena keputusan ini pula sang Romo mendapatkan perlawanan dari para Bupati yang lainnya, karena khawatir nantinya jika kaum wanita dan semua rakyat menuntut Ilmu ke jenjang yang lebih tinggi akan terjadinya perubahan dan siapapun bisa menjadi seorang Bupati. Sehingga membuat sang Romo terjatuh sakit dan hanya bisa terbaring di tempat tidur saja.

Sehingga yang menjadi kuasa sementera saat itu adalah sang Raden Ayu, Istri pertama sang Romo (Djenar Maesa Ayu) dimana Raden Ayu memaksa Kartini untuk menerima pinangan dari seorang Bupati yang telah memiliki 3 orang istri. Jelas saja Kartini menolak pinangan tersebut karena tidak mau memiliki nasib yang sama yang telah dialami oleh sang adik Kardinah yang harus menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.

Karena penolakan tersebut akhirnya Raden Ayu mengurung Kartini dalam kamar, namun Nyai Ngasirah (Christine Hakim) tak tega melihat anaknya dikurung dalam kamar, pada akhirnya Dia memutuskan untuk menolong dan mengajak anaknya Kartini untuk keluar dari kamar.

Nyai Ngasirah menceritakan tentang masa lalunya dan tidak ingin hal tersebut terulang kembali kepada diri Kartini. Sang Ibu menyakinkan bahwa jika kartini yakin dengan apa yang dilakukannya, maka Ia harus kuat dan terus meneruskan cita-citanya.

Di awal cerita dikemas dengan ringan banyak jenakanya kita sempat disajikan tawa, namun di tengah hingga akhir film sang Sutradara Hanung Bramantyo berhasil membuat para penonton meneteskan air mata alias kita dibikin Baper. Apalagi akting yang sangat sukses diperankan oleh para aktor dan aktris yang ternama membuat kita tersereret terbawa ke dalam dunia Kartini saat itu.

Setelah sang Romo pulih dari sakitnya, Kartini pun ditanya tentang kesiapannya menjadi Raden Ayu dan bersedia untuk dipinang oleh Raden Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono), Bukan Kartini namanya yang mau menerima pinangan begitu saja. Sehingga Kartini pun mengajukan 4 permintaan yang harus dikabulkan untuk menerima pinangan tersebut.

Untuk teman-teman jangan lupa untuk menyaksikan Film Kartini di bioskop-bioskop kesayangan Anda mulai tanggal 19 April 2017 nanti. Fil produksi Legacy Pictures ini di jamin film ini berbeda dengan biopic yang pernah tayang sebelumnya.















7 komentar:

  1. Eeeiittt cepet tumben,,, keren y,, Kartini jaman skrg lebih keren dan maju,, punya segudang tp ttp td lupa kodratnya sbg perempuan 😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheheh... Tumben yakk..!

      Setuju Mbak,punya segudang ilmu dan keahlian tapi tak melupakan kewajibannya sebagai seorang perempuN.

      Hapus
  2. aku penasaran mau nonton film ini, ulasannya keren mba, bikin aku penasaran hehe

    suika-lovers.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus nonton Mbak.. Filmnya bagus, kita berasa tebawa hanyut ke dalam film tersebut.

      Thanks udah mampir yahh

      Hapus
  3. Habis nonton film kemarin langsung terfikir,, gaul juga yaa perilaku kartini waktu dulu. Mungkin itu trik supaya filmnya tidak membosankan. Jadi nanti bisa aku sampaikan ke murid2ku, jadiborang pinter itu tidak selamanya membosankan dan kuper. Buktinya kartini yang hebat dan pinter saja perilakunya gaul gila...supel pula.

    BalasHapus
  4. Gak nyangka kehidupan kartini so beautiful Dan membangun bisnis orang orang di kampung nya

    BalasHapus
  5. ini ke dua kalinya membaca review film kartini,,,


    walaupun belum nonton tapi kalo cara mbahasnya gini, siapa yang ngga penasaran.. aiih aku maunya nonton ditemeni ehem ehem :)

    Salam Nufus m zaki

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir di Blog saya, dan memberikan coment mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.